Apakah kamu sering dibuat kesal karena kucingmu tiba-tiba pipis di atas kasur, karpet, atau tumpukan baju bersih? Sebelum kamu kehilangan kesabaran dan memarahi mereka, kamu perlu tahu satu fakta penting: kucing pipis sembarangan hampir tidak pernah dilakukan karena mereka nakal atau ingin balas dendam. Perilaku ini adalah cara mereka berteriak meminta tolong karena adanya masalah kesehatan atau stres yang parah.
Membedakan Pipis Biasa dan Menandai Wilayah (Spraying)
Sebagai pemilik, kamu harus bisa membedakan dua jenis perilaku buang air kecil di luar kotak pasir. Perilaku pertama adalah spraying, yaitu cara kucing menandai wilayah kekuasaannya atau karena sedang birahi. Saat melakukan spraying, kucing akan berdiri tegak, membelakangi permukaan vertikal (seperti dinding atau kaki meja), menggetarkan ekornya, dan menyemprotkan sedikit urin yang berbau tajam. Ini biasanya diatasi dengan melakukan steril atau kebiri.
Perilaku kedua adalah pipis sembarangan biasa (periuria), di mana kucing akan berjongkok di permukaan datar dan mengeluarkan urin dalam jumlah banyak. Jika mereka melakukan ini sambil bersuara kesakitan atau sering mondar-mandir ke kotak pasir tapi urin yang keluar hanya sedikit, besar kemungkinan mereka sedang mengalami masalah medis.
FLUTD, Musuh Tersembunyi di Saluran Kemih Kucing
Penyebab medis paling sering di balik kebiasaan pipis sembarangan adalah FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease) atau gangguan saluran kemih bagian bawah. Istilah ini mencakup beberapa penyakit seperti infeksi bakteri kandung kemih, adanya batu atau kristal di dalam saluran pipis, hingga peradangan kandung kemih akibat stres yang disebut Feline Idiopathic Cystitis (FIC).
Ketika kucing merasa kesakitan saat pipis di kotak pasir, otak mereka akan mengaitkan rasa sakit tersebut dengan kotak pasirnya. Akibatnya, mereka akan menghindari kotak pasir tersebut dan mencari tempat yang dirasa lebih empuk dan nyaman, seperti kasur atau baju pemiliknya. Yang perlu sangat diwaspadai adalah jika kucing jantan sama sekali tidak bisa mengeluarkan pipis akibat saluran uretra yang tersumbat total oleh kristal atau lendir. Ini adalah kondisi darurat medis yang sangat berbahaya dan bisa fatal dalam waktu singkat jika tidak segera dibawa ke dokter hewan.
Tips Menata Kotak Pasir yang Disukai Kucing
Jika dokter hewan menyatakan kucingmu sehat secara fisik, maka masalahnya kemungkinan besar ada pada kebersihan atau tata letak kotak pasir mereka. Cobalah menerapkan beberapa tips berikut:
- Gunakan rumus jumlah kotak pasir yang ideal, yaitu jumlah kucing yang dimiliki ditambah satu. Jika kamu punya 1 kucing, sediakan 2 kotak pasir di tempat berbeda.
- Bersihkan kotak pasir minimal dua kali sehari dengan membuang gumpalan urin dan feses, serta ganti seluruh pasirnya secara berkala seminggu sekali.
- Letakkan kotak pasir di tempat yang sepi, tenang, dan mudah dijangkau, serta jauh dari wadah makanan dan air minum mereka.
- Jika membersihkan bekas pipis kucing di luar kotak pasir, gunakan cairan pembersih khusus berbasis enzim untuk menghilangkan bau pesing secara total. Jangan pernah menggunakan pembersih berbahan amonia, karena baunya mirip dengan urin kucing dan justru akan memancing mereka untuk pipis di tempat yang sama lagi.

Waspada Bahaya Penyakit yang Bisa Menular ke Kita (Zoonosis)
Sebagai pemilik kucing, kamu juga harus ekstra hati-hati saat membersihkan urin atau feses kucing yang tercecer di rumah. Ada beberapa penyakit berbahaya yang bisa menular dari kucing ke manusia (zoonosis) saat kita bersentuhan dengan kotoran mereka tanpa perlindungan :
- Toksoplasmosis: Disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang hidup di kotoran kucing. Penyakit ini sangat berbahaya bagi ibu hamil karena bisa memicu keguguran atau cacat bawaan pada janin. Oleh karena itu, ibu hamil sangat dilarang mengubah pasir kucing.
- Kurap (Ringworm): Infeksi jamur kulit yang membuat bulu kucing rontok dan membentuk lingkaran bersisik. Jamur ini sangat mudah menular ke kulit manusia melalui kontak langsung, menyebabkan gatal-gatal dan bercak merah melingkar.
- Penyakit Cakar Kucing (Cat Scratch Disease): Disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae yang dibawa oleh kutu kucing. Bakteri ini bisa berpindah ke manusia lewat cakaran, gigitan, atau saat kita mengelus bulu kucing yang terkontaminasi lalu tidak sengaja mengusap mata. Gejalanya berupa pembengkakan kelenjar getah bening dan demam.
- Kampilobacteriosis dan Salmonellosis: Infeksi bakteri saluran pencernaan yang menular jika kita tidak mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan kotoran kucing atau bermain dengan mereka, memicu demam, kram perut, serta diare parah pada manusia.
Selalu gunakan sarung tangan saat membersihkan kotoran kucing, dan jangan pernah lupa untuk mencuci tangan memakai sabun hingga bersih setelah berinteraksi dengan area bermain mereka.
